10 Jun 2013

Menulis Sebagai Terapi Penyakit Hati

Genggam pena lalu siapkan kertas kosong, tuliskan pengalaman yang paling berkesan ya? masih ingatkah waktu pertanyaan itu disebutkan? Lupa ya.. hehe… Untung saja saya masih ingat pertanyaan tersebut, ibu guru saat mengajar bahasa Indonesia di SD sering memberi tugas menulis pengalaman ataupun cita-cita. Kadang susah untuk menuliskan kata-kata hingga sampai setengah jam pun belum dapat satu kata pun (judulnya bingung mulai dari mana ini mau nulis).

Awal membuat cerita tidak lepas dari kata  “pada suatu hari”  . haha… Seperti ketika disuruh membuat gambar, yang digambar pun pasti kebanyakan pemandangan 2 gunung yang ditengah-tengahnya ada matahari dan ada hamparan sawah serta jalan.wkwk… apa anda yang membaca tulisan ini juga sama seperti saya (pengalaman SD).

gambar gunung sd

Pernyataan diatas menandakan sebuah mindset yang sudah melekat pada setiap anak waktu SD dulu. Mungkin anak-anak sekarang berbeda dengan saya dulu, lebih modern lagi. Sebenarnya jauh-jauh hari kita sudah dikenalkan dengan yang namanya menulis, entah menulis cerita, pengalaman, cita-cita. Anggapan negatif tentang menulis sempat ada dibenak saya tak kala susah untuk menuangkan rasa dalam kosa kata. Tidak pandai untuk mengolah kata sampai menjadi kalimat yang bisa dipahami oleh guru yang bertindak sebagai pembaca.

Oke itu dulu ketika masih masa-masa galau kosakata, maklum masih anak SD. Mulai beranjak memasuki dunia yang baru yang dinamakan kuli-ah, saya dapat menangkap manfaat dari tulis menulis itu apa. Saya memahami kesulitan banyak orang untuk menulis, alasannya “sulit mencari kata-kata”. Keadaannya itu pun yang pernah saya alami,namun lebih lanjut bisa menuangkan kata demi kata sehingga menemukan banyak kosa kata untuk diolah menjadi kalimat yang pas. Cara itu pun yang saya tulis diblog ini bagaimana menulis tanpa kesulitan kata-kata. (dilihat lagi ya postingan itu)

Menulis, salah satu dari sekian banyak cara untuk terapi diri. Menuliskan apa yang dirasakan dapat memuaskan rasa sehingga terasa mak plong. Seperti kita cerita (curhat) pada teman sejawat. Ketika dalam keadaan apapun saya meluangkan waktu untuk menulis isi dari perasaan yang terendap dalam hati. Coba anda lakukan curhatan-curhatan kecil yang mengganjal hati dalam bait-bait cerita. Rasakan perubahan apa yang terjadi.

Terapi untuk menyembuhkan trauma kejadian. Sebagai contoh saat kecewa, luangkan waktu menulis kekecewaan yang ada dengan hati dan emosi yang sedang anda rasakan. Ketika rasa emosi meledak diluangkan dalam tulisan kemudian rasakan perubahan apa yang terjadi pada diri anda.


Jangan takut untuk menulis, karena menulis itu kegiatan yang menentramkan hati dan pikiran. Lakukan secara kontinyu saat perasaan anda sedang bahagia atau sedang sedih. Semoga dengan menulis menjadi terapi diri untuk kehidupan diri lebih baik

Previous
Next Post »

Posting Komentar

Silahkan memberikan Komentar untuk kritik dan saran pada kolom dibawah ini